Budidaya Ikan Nila
Image : bulelengkab.go.id

Karena Nila Setitik, Cuan Sebelanga

Budidaya ikan Nila menjadi salah satu peluang bisnis yang menggiurkan. Terlebih di tengah pandemik yang membuat mobilitas terbatas. Kegiatan budidaya ikan dapat menjadi pilihan kegiatan, hobi atau bisnis yang mengubah hidup Breeders.

PENGENALAN IKAN NILA

Ikan Nila

Nama dan Muasal

Ikan Nila memiliki nama ilmiah Oreochromis niloticus atau juga dikenal sebagai Tilapia. Ada yang beranggapan bahwa ikan Nila dan Tilapia adalah jenis yang berbeda. Namun, kita dapat melihat bahwa Tilapia dibedakan menjadi 3 genus (marga), yaitu : Oreochromis, Sarotherodon dan Tilapia. Oreochromis dan Sarotherodon  semula masuk dalam genus Tilapia, tetapi pada perkembangannya dipisahkan menjadi genus tersendiri. Meski demikian, kedua genus tersebut masih disebut sebagai Tilapia.

Oreochromis niloticus yang sering kita jumpai di Indonesia, rupanya berasal dari benua Afrika dan Levant (wilayahnya antara lain meliputi; Lebanon, Suriah, Yordania, Israel dan Palestina). Pada jaman Mesir Kuno, ditemukan huruf Hieroglif (tulisan kuno Mesir) berbentuk Tilapia. Tidak heran jika ikan Nila banyak ditemukan di sepanjang aliran sungai Nile di Afrika. Nama Nila sendiri juga diadaptasi dari asal ikan ini, Sungai Nile.

Awal Masuk Ke Indonesia

Pada tahun 1969, ikan Nila masuk ke Indonesia dari Taiwan. Selanjutnya, ikan ini dibawa ke Bogor, tepatnya di Balai Penelitian Perikanan Air Tawar dan kemudian disebar ke beberapa daerah di Indonesia. Jadi jelas sekali bahwa ikan ini awalnya adalah ikan introduksi atau ikan asing yang masuk ke Indonesia atas campur tangan manusia.

Anatomi dan Morfologi

Ikan Nila tubuhnya berwarna kehitaman atau keabuan dengan perbandingan panjang dan tinggi 2:1. Ikan yang termasuk jenis hewan vertebrata memiliki sisik di seluruh badan dan terdapat gurat sisi. Badannya pipih, berjari – jari keras, kepala kecil dan matanya besar. Ikan Nila biasanya memiliki 5 buah sirip, yaitu; sirip punggung, sirip dada, sirip perut, sirip anus dan sirip ekor.

Baca Juga :  Tips Melakukan Budidaya Ikan Patin di Rumah

VARIAN IKAN NILA

Jenis Ikan Nila

Sampai saat ini, ikan Nila berkembang cukup pesat dan memiliki bermacam – macam varian. Berikut ini beberapa varian yang banyak kita temukan :

  1. Nila Merah NIFI (National Inland Fish Institute)  – Merupakan hasil persilangan antara ikan jantan lokal dengan ikan betina dari luar negeri.
  2. Nila Merah GIFT – GIFT merupakan kepanjangan dari Genetic Improvement of Farmed Tilapia. Ikan Nila Merah GIFT merupakan persilangan viarietas dari 8 negara, yakni; : Ghana, Singapore, Israel, Kenya, Thailand, Mesir, Taiwan, dan Senegal.
  3. Nila Salina – Ikan dengan nama latin Saline Indonesian Tilapia menjadi jenis ikan Nila yang berasal dari Indonesia, dimana BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) adalah pihak yang mengembangkan strain ikan Nila. Tujuan pengembangan ini adalah untuk :
  • Mengatasi dampak global warming – tingginya air muka laut, cepat atau lambat akan mengancam kondisi lingkungan dan organisme laut.
  • Mendukung ketahanan pangan nasional
  • Mengoptimalkan lahan tambak marjinal (idle)

Masih banyak varian ikan Nila yang dapat kita jumpai di Indonesia. Sebelum membeli, sebaiknya Breeders banyak mempelajari variannya, agar dapat disesuaikan dengan kebutuhan.

Keuntungan Budidaya Ikan Nila

  1. Tidak hanya ikan Guppy yang memiliki kemampuan adaptasi yang baik, ikan Nila pun demikian. Ikan ini mudah untuk dibudidayakan, resisten terhadap gangguan penyakit dan tahan terhadap perubahan lingkungan. Bagi Breeders pemula, kelebihan ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan.
  2. Permintaan pasar terhadap ikan Nila masih tinggi, sehingga peluang pemasaran terbuka lebar. Peminatnya tidak hanya untuk masyarakat lokal, tetapi juga ekspor hingga ke mancanegara.
  3. Biaya operasional relatif kecil dan bisa disesuaikan dengan budget. Breeders dapat memulai budidaya ikan dari skala kecil terlebih dahulu.
  4. Resiko gagal panen hanya 10% karena budidaya ikan ini mudah, bahkan bagi pemula.
  5. Masa panen cepat, sekitar 6 bulan.
Baca Juga :  Cara Memelihara Belut untuk Pemula Anti Gagal dan Menguntungkan

CARA BUDIDAYA IKAN NILA

Cara budidaya Ikan nila

1.Kolam

Langkah awal untuk budidaya Ikan Nila dengan mempersiapkan kolam terlebih dahulu. Ada bermacam – macam jenis kolam yang dapat digunakan; kolam tanah, kolam semen, dan kolam terpal. Umumnya, kolam tanah dan kolam terpal lebih diminati oleh Breeders karena lebih ekonomis.

Kolam terpal saat ini sedang menjadi tren karena lebih praktis, murah dan mudah perawatannya (pembersihannya). Kolam tanah juga media yang unggul karena lebih alami. Adanya tumbuh – tumbuhan alami ataupun hewan – hewan tanah juga menguntungkan jika dapat menjadi makanan ikan. Jika Breeders memilih media kolam tanah, pastikan tanah dalam keadaan bersih terlebih dahulu sebelum digunakan.

Selalu amati kondisi kolam yang sudah digunakan untuk budidaya ikan Nila. Apabila menemukan bau dari dalam kolam, artinya sudah saatnya untuk mengganti air di dalamnya. Caranya dengan mengeluarkan 1/3 air dan menggantinya dengan air baru.

2.Benih

Faktor yang tidak kalah penting selain media kolam adalah benih. Pilihlah tempat membeli benih yang sudah terpercaya. Pelajari juga varian dari benih yang ingin diternakkan. Breeders dapat berdiskusi dengan join komunitas – komunitas ikan atau membaca artikel dari Jalur Ikan.

Sesuaikan jumlah benih ikan yang akan dibeli dengan luas kolam yang tersedia. Umumnya, 5 – 10 ikan dengan ukuran 8 – 12 dapat diletakkan di kolam seluas 1 meter persegi. Breeders dapat memperkirakan luas kolam dengan jumlah benih yang akan dimasukkan. Jangan sampai kolam menjadi terlalu penuh sehingga pertumbuhan ikan tidak optimal.

3.Makanan

Pilihlah jenis makanan yang terbaik. Sesuaikan banyaknya makanan yang akan ditebarkan di kolam. Setiap hari, ikan Nila membutuhkan makanan sekitar 3% dari berat tubuhnya. Ikan Nila juga dapat memakan mikororganisme di dalam kolam.

Baca Juga :  Budidaya Ikan Bawal Yang Baik dan Benar Dijamin Berhasil

4.Panen

Waktu panen yang umum bagi ikan Nila adalah 4 – 6 bulan dengan berat per ikan sekitar 300 – 600 gram. Panen dapat dilakukan keseluruhan atau dapat juga dipilih berdasarkan besar ikan (jika ingin menyesuaikan dengan permintaan pasar).